
PAMOTAN – Dalam upaya bertransformasi menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21, upaya peningkatan kapasitas pendidik terus digencarkan. Baru-baru ini, Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui pakar pendidikannya, Ibu Sony Zulfikasari, S.Pd, M.Pd, hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan In-House Training (IHT) yang memfokuskan pada tema Peningkatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).
Kegiatan IHT ini diikuti oleh puluhan guru yang antusias mempelajari bagaimana beralih dari sekadar menuntaskan kurikulum menjadi menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.
Mengapa Pembelajaran Mendalam Itu Penting?
Dalam paparannya, Ibu Sony Zulfikasari, S.Pd, M.Pd menekankan bahwa era informasi saat ini menuntut siswa tidak hanya sekadar menghafal fakta, tetapi mampu menghubungkan konsep dengan realitas kehidupan.
“Pembelajaran mendalam atau deep learning bukan tentang seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi seberapa jauh siswa mampu mengonstruksi pemahaman, berpikir kritis, dan memecahkan masalah secara mandiri,” ujar Ibu Sony di hadapan para peserta.

Strategi Penguatan Kapasitas Pendidik
Ibu Sony membedah tiga pilar utama yang harus dikuasai pendidik untuk mengimplementasikan pembelajaran mendalam:
- Rancangan Instruksional yang Relevan: Guru didorong menyusun modul ajar yang memicu rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan pemantik yang berbobot.
- Pemanfaatan Teknologi sebagai Enabler: Bukan sekadar alat, teknologi harus digunakan untuk mengeksplorasi sumber belajar yang lebih luas.
- Asesmen Otentik: Mengalihkan fokus dari nilai angka semata menuju umpan balik yang membangun proses berpikir siswa.
Dampak In-House Training (IHT)
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada tataran teori. Melalui IHT, para guru melakukan simulasi langsung dan penyusunan perangkat ajar yang dipandu langsung oleh narasumber.
“IHT merupakan wadah paling efektif karena guru belajar di lingkungan kerjanya sendiri. Dengan pendampingan dari akademisi UNNES, kami berharap ada standar kualitas baru dalam proses belajar mengajar di kelas,” tambah Ibu Sony.

Menuju Ekosistem Sekolah yang Adaptif
Peningkatan kapasitas ini menjadi langkah konkret dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Dengan penguasaan strategi pembelajaran mendalam, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu, melainkan sebagai fasilitator yang menginspirasi.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif, di mana para peserta berkonsultasi mengenai hambatan implementasi di lapangan dan mencari solusi bersama berdasarkan perspektif akademis dan praktis.


